Di era digital, aktivisme telah mengambil bentuk baru dengan munculnya hacktivism – penggunaan teknik hacking untuk tujuan politik atau sosial. Salah satu kelompok yang mendapat pengakuan di dunia hacktivism adalah Laskar89, sebuah kumpulan hacker yang berbasis di Indonesia yang memperjuangkan keadilan secara online.
Laskar89 didirikan pada tahun 2013 dengan tujuan mengungkap korupsi dan ketidakadilan di Indonesia melalui penggunaan serangan dunia maya dan kebocoran data. Nama kelompok ini mengacu pada tahun 1989, ketika pemerintah Indonesia diguncang oleh protes yang meluas dan tuntutan reformasi politik.
Salah satu kampanye Laskar89 yang paling menonjol adalah Operasi Indonesia, yang menargetkan situs web pemerintah dan membocorkan informasi sensitif kepada publik. Kelompok ini juga menargetkan perusahaan dan individu yang terlibat dalam korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Meskipun beberapa orang mungkin memandang hacktivisme sebagai bentuk kejahatan dunia maya, Laskar89 melihat diri mereka sebagai pelapor digital (whistleblower) yang menyoroti isu-isu yang mungkin luput dari perhatian. Kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka tidak termotivasi oleh keuntungan pribadi, namun oleh keinginan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan transparan.
Aktivitas Laskar89 tidak luput dari perhatian pihak berwenang, yang telah menindak kelompok tersebut dan menangkap beberapa anggotanya. Terlepas dari risiko yang ada, Laskar89 terus beroperasi dan mendapatkan banyak pendukung yang percaya pada tujuan mereka.
Di dunia di mana informasi adalah kekuatan, hacktivisme telah menjadi alat yang ampuh bagi mereka yang ingin menantang status quo. Laskar89 dan kelompok hacktivist lainnya menggunakan keahlian mereka untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang berkuasa dan berjuang demi masyarakat yang lebih adil – satu serangan cyber dalam satu waktu.
